Sesaat siulan malam berloncat-loncatan di atas sajak.Usai ruhmu menyeru keras-keras dalam riak. Puing-puing cermin meretak.Memantulkan sederet nyanyian semak.sedang balada pujangga kumal lagi berbiak bersama mekar bunga bijak. Mencari mulut-mulut kata berkerak.untuk bisa senantiasa berdetak.sementara bara tak lagi tersulut ketika sajak sejenak beranjak.
membentukmu serupa pahatan batu itu, di balik wajah waktu yang hampir tiba. melumuti angka-angka mati, yang mana tangis adalah pantangan bagi doa di atasnya. melapukkanmu seperti akar-akar angsana di samping rumah kita, lalu jadi arang di antara puisi yang jarang. mengabukanmu.
mencairkanmu kepada beku, kepada dingin, kepada angka, kepada abjad, kepada mata, kepada puisi. mengalirkanmu menuju hulu di pelupuk cinta itu. Menguapkanmu pada sepi yang melejit. Mengeringkanmu.
menemukanmu beradu dengan batu dan waktu. menjadikanmu kapur di sisi penghapus papan tulis, kumal di nadi telapak tangan pengemis muda. menyeretmu dari setapak-setapak malam yang diam. membawamu untuk bantaran di sisi-sisi rumah gusuran. menepikanmu.
merapikanmu jangan sampai sendiri jadi penyakit, penyakit jadi sendiri. menggantungkanmu, memakaimu.
Dalam kurun waktu satu tahun, sang empunya ladang jagung dan ketela berjuang membersihkan berbondong ribuan hama. Di tahun berikutnya, sang empunya khawatir akan panenan gagalnya. Ia bersikeras mencari pemangsa hama-hama itu. Namun, tak kunjung didapat.
Dalam kurun waktu dua tahun, sang empunya ladang jagung dan ketela berjuang membersihkan berbondong ribuan hama. Di tahun berikutnya, sang empunya kian tahu ada yang aneh di tahun-tahunnya. Seketika ia menjumpa ratusan angka-angka ganjil mendekam di pelosok ladang tempat hama-hama berbiak dalam sajak. Ia bersikeras menghanguskannya. Namun, pupus.
Dalam kurun waktu tiga tahun, sang empunya berjuang mempertahankan angka-angka genap dalam sajak ladang jagung dan ketela di tahun-tahunnya. Di tahun berikutnya, sang empunya merenungi sajak angka-angka genap yang tak bersisa disantap hama-hama, menggantikan panen lebatnya. - Di atas bakaran jagung dan ketela, ia menggenapi; merekalah korban sajak angka ganjilku -
Apa yang dapat kamiteriakkan padakalian. Kakikaki. Apa yang dapat kamitangiskan padakalian. Tubuhtubuh. Dosakah kami berkorban melumuri lapangan manusia dengan jeritjerit pahit. Dengan injakaninjakan brutal. Dengan instinginsting, nalurinaluri tengadah pada sedekah. Atau siapakah. Kami atau mereka.
kemarin aku bertemu nona kecil. di sebuah lukisan sepupu kerabat ayahku. “hei, si angin kelana nakal mencuri milikku!”berlari ia menepi. mencoba menangkap selembar kertas puisinya. tersedu kesal ia di pinggir jembatan. airmatanya meleler dan tak tenggelam di arus kali, namun bersimfoni menjadi perahu-perahuan.
“perahu-perahuku, carilah ia sebelum aku memudar dibuatnya. sebelum kalian merupa riakriak ego yang dalam.”dan nona kecil meniupkan bunyi puisi di hadapan setiap kabar perahunya. seperti suara debur arus di bebatuan, hanya batubatu saja yang mengerti.
Mungkin kita perlu merebus airhujan. Yang tergeletak di atap payung kita. Atau yang terinjak oleh langkah-langkah sepi kita.
Manakala hujan tak mendengar rengekan jendela-jendela tembok, trotoar, lampu jalan, dingin yang menyelinap di jaket hingga bagian terpencil dari diri kita.
Mungkin kita perlu merebus airhujan. Sewaktu frasa gigil mengoyak kerangka tubuh begitu dalam dan dalam. Tanpa memandang wajah puisi mana yang beku terlebih dahulu sebelum membekukan penyairnya.
Mungkin kita perlu merebus airhujan. Agar kita meminumnya menghangatkan lekat frasa gigil kita. Sembari menyandarkan dingin pada genggaman payung di bulanbulan penghujan kita.
Mungkin tapi bukan kemungkinan. Mungkin tapi bukan memungkinkan. Mungkin yang adalah ajakan.
Sehirup kita duduk bersama merangkum matamata elips. Berintik hujan mereka. Menjelma payung kita. Lalu bersandiwara. Bila malam tak mampu lagi mengisi cinta sepi.
Sehirup kita duduk bersama memandang kacakaca di samping wajah kita. Bahwa mendung isyarat kesiagaan dan bahasa pengharapan.
Sehirup kita duduk bersama melukis, tinta doa pengemis yang habis karena iblis. Sehirup kita.
--laksana ilmu padi, kian berisi kian merunduk demikian penyairpadi bertunas di pelataran surya dalam fotosintesis para sajak--
juni 2009
LAKSANA PADI
kepada PUISI
cucurkanlah kata-kata ke dalam relung mataku
supaya aku bisa melelehkan mataku di relungmu
Quote of the day
biarkan imajimu datang
penyair padi pecandu kata mengucapkan,"turut bersukacita atas para pemerhati sajak yang mau singgah dan mencicipi berbagai rasa kata. semoga menghapus dahaga dan lapar Anda..."
Terlahir dari rahim Ibunda di Semarang, 10 September menjelang akhir taoen 80-an. Kini, saya masih menjadi seorang mahasiswa psikologi juga penulis samar. Masih tinggal dan menetap di Semarang. Masih aktif menulis sajak-sajak. Yang notabene bukan hobi atau pun pekerjaan saya. Namun sebuah cinta akan sepenggal puisi yang oleh Joko Pinurbo disebut mata dan airmatalah dirinya. Yang kemudian tertanam lalu bertumbuh di lahan diri saya.
Menulis adalah memilih dan saya telah memilih. Saya memilih sajak sebagai sebuah kecintaan. Hingga dia pun benar-benar memiliki dan mencintai saya sebagai penciptanya sebagaimana saya mencintainya sebagai ciptaan saya yang "sempurna".
Inilah saya pujangga kumalnya. Penyair padi yang belajar rendah hati dan mencandui kata.